Seputar Politik

Presiden Jokowi Yang Selalu Dikaitkan Dengan Tionghoa

Berita Terbaru – Soeharto melarang perayaan Imlek dengan dalih asimilasi keturunan Tionghoa Indonesia. Habibie berhenti menggunakan kata pribumi dan non-pribumi dalam pemerintahan. Gus Dur mengizinkan orang Tionghoa melestarikan budaya mereka dengan merayakan Tahun Baru Imlek. Sementara Jokowi sempat tersinggung isu rasial saat kampanye pemilihan presiden.

Bahkan sejak Pilkada DKI 2012, Jokowi sebenarnya sudah rentan diserang isu SARA. Saat itu, Jokowi yang berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), melawan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli (Nara). Selama masa kampanye, banyak orang menerima pesan berantai yang memojokkan Ahok karena etnisnya dan menuduh Jokowi beragama Kristen. Sentimen tersebut sempat terungkap usai babak pertama Pilkada Jakarta 2012 saat penghitungan perolehan suara menunjukkan Jokowi-BTP unggul. Akan tetapu kampanye hitam ini bisa dikatakan tidak berhasil secara elektoral.

Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Tempo melakukan polling pada 2-7 September 2012 bertajuk Pilkada DKI Jakarta, Middle Class Protest. Di dalamnya, LSI menemukan bahwa 85% penduduk DKI Jakarta memang beragama Islam, hanya saja hal tersebut tidak mampu membuat Foke-Nara mampu memanfaatkan isu SARA terhadap Jokowi-BTP. Pasalnya, warga DKI Jakarta termasuk yang sekuler dalam politik. Hidayat Nur Wahid yang merupakan tokoh partai Islam, PKS justru kalah di babak pertama.

Sedangkan pada Pilkada tahun 2007, PKS juga tidak dapat memenangkan Pilkada di DKI Jakarta. Isu SARA dinilai baru berhasil di Jakarta pada Pilkada 2017. Saat itu Anies Baswedan-Sandiaga Uno menang melawan BTP-Djarot Saiful Hidayat. Namun masalah SARA tidak berakhir dengan Pilkada Jakarta Jokowi. Saat mencalonkan diri sebagai presiden pada Pilpres 2014, Jokowi kembali dilanda masalah serupa.

Masyarakat Tionghoa Indonesia Tidak Sama Dengan RRC

Berbagai tudingan Jokowi dilontarkan saat Pilpres 2014. Tuduhan paling umum adalah ayah dan ibu Jokowi adalah keturunan Tionghoa. Persoalan ini diangkat oleh Obor Rakyat dalam beberapa terbitannya. Jokowi tidak menerima dan melaporkan Obor Rakyat. Meski Obor Rakyat mengaku sebagai media massa, proses hukumnya tetap melalui pengadilan pidana. Pemimpin Redaksi Obor Rakyat, Setiyardi Budiono, akhirnya diadili dan dipenjara.

Adam Tyson dan Budi Purnomo dalam artikel “Presiden Jokowi dan Obor Kontroversi Rakyat di Indonesia 2014” (2016) juga menyebutkan bahwa Jokowi terkait dengan cukong (pengusaha Tionghoa) dan agama Kristen. Jokowi dinilai akan disandera oleh kedua kelompok tersebut. Padahal, menurut Tyson dan Purnomo, tudingan itu lebih tepat ditujukan kepada lawannya, Prabowo Subianto.

Isu RAS Selalu Mendampingi Jokowi

Di Pilpres 2019, Jokowi juga dilanda masalah serupa. Kali ini cakupannya lebih luas. Dalam salah satu pemberitaannya, Jokowi dituding menghendaki warganegara Republik Rakyat Tiongkok datang ke Indonesia. Salah satu laporan berita yang dimanipulasi menyatakan bahwa “Atas keinginan Jokowi, China akan segera mengirimkan 3 juta warganya ke Indonesia.”

Ada juga tuduhan 10 juta TKA masuk ke Indonesia dan diabaikan oleh Jokowi. Dalam keterangannya, Jokowi menyebut baru 23 ribu TKA asal Tiongkok yang masuk. Mereka adalah TKI yang tidak dapat tergantikan karena TKI belum mampu memenuhi bidang pekerjaannya. Misalnya memasang turbin di tempat yang sulit.

Usai pilpres usai, tuduhan Jokowi menguntungkan RRT terus berlanjut, misalnya soal UU Cipta Kerja. Ada yang beranggapan aturan ini dimaksudkan untuk memudahkan RRT berinvestasi di Indonesia. Pemerintah lantas berdalih tidak hanya investor China yang akan ditarik, tapi juga investor dari negara lain. Kebencian terhadap orang Tionghoa bukanlah hal baru.

Sejak ratusan tahun silam, sejarah kita mencatat berbagai peristiwa yang menunjukkan bahwa ketegangan rasial mudah terjadi di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Orang Jawa memiliki stereotip sendiri bahwa orang Tionghoa adalah lintah darat dan pemeras karena profesi mereka sebagai pedagang atau pemungut pajak pada masa penjajahan. Kolonialisme yang menyebabkannya muncul telah lenyap, tetapi stereotip tersebut masih ada hingga hari ini.